Perlawanan yang sudah mati

Catatan dalam bentuk buku tentang perlawanan para pekerja disemua aspek hampir tidak ditemukan disemua lini apapun, walaupun ada itu hanya tulisan dari akedemisi sebagai tugas akademik ataupun bentuk lirik dari sebuah genre aliran musik yang mereka sendiri sebenarnya orang orang yang bergerak dibidang seni paling tidak untuk memenuhi kebutuhan artwork. Berbicara tentang kaum buruh dan penindasanya tak lepas dari hilir mudiknya ketidak adilan dikubu pekerja itu sendiri. Banyak adegan adegan drama sampai pemutihan atau perusahaan yang pura pura collapse supaya pekerja tidak mendapatkan pesangon mungkin itu sebagian kecil dari adegan adegan drama dagelan yang tidak lucu.

Mediasi mediasi hanya berujung pada multi tafsir paling tidak perusahaan lebih mudah mengenal pekerja yang menjadi target pemutusan hubungan kerja selanjutnya

Bentuk perlawanan kini lebih mudah ditemukan disetiap titik titik perempatan lampu merah dari anak anak muda dengan berpakaian sobek membawa ukulele bersetelan mohawk, atau coretan coretan di tembok penjuru kota dengan symbol circle A (Anarchy), sampai dengan lirik lirik sarkas dan kocokan gitar yang kencang yang dimainkan di mall.

Semuanya sudah tidak lagi relevan dengan apa yang di dengugkan, semuanya sudah tidak relevan lagi dengan “pakem pakem” yang tidak pernah tersirat dari perlawan itu sendiri